Hukum Potong Tangan Bagi Koruptor

Minggu, 21 Oktober 2018 | 18.58 WIB

Bagikan:
Medan,Setarapost

Tertangkapnya Ketua DPRD Bangkalan, Fuad Amin Imron yang diduga melakukan korupsi lebih dari 3 milyar, menjadi banyak masyarakat apatis terhadap korupsi dan hukum di negeri ini.
Korupsi (mencuri uang dalam jumlah besar),kini seperti menjadi gurita dalam masyarakat Indonesia. Komisi Penyelidikan Korupsi (KPK) telah memenjarakan koruptor di hampir semua profesi. Apakah guru, pebisnis, anggota DPR/DPRD, tokoh partai politik, pejabat pemerintah,menteri,polisi dan lain-lain. Hanya wakil presiden dan Presiden saja yang belum berani disentuh oleh KPK.

Para koruptor yang ditangkap KPK pun dikenai hukuman penjara bervariasi. Ada yang empat tahun,12 tahun,16 tahun dan seterusnya. Tapi Kenyataanya korupsi seperti air kencing dalam tubuh manusia, selalu ada di negeri ini. Data di KPK kita yakin ada ratusan (atau ribuan) kasus korupsi ini. Kenapa ini terjadi?

Salah satu yang menyebabkan orang berani mencuri, adalah karena tidak jelasnya sistem hukum di tanah air. Hukuman untuk pencuri baik nilainya ratusan ribu atau milyaran – tidak jelas hukumnya. Seenak hakim sendiri. Ada orang melakukan pencurian kayu empat batang di hukum dua tahun dan denda 2 milyar.orang mencuri beberapa botol minyak kayu putih dihukum 4 bulan.orang mencuri beberapa milyar dihukum empat tahun.Ada Koruptor yang dihukum 12 tahun,16 tahun dan seterusnya. Ada juga yang bebas tidak dihukum, karena pintar melobi hakim. Hukum untuk pencuri tidak jelas ketentuannya.

Bagi narapidana koruptor yang memahami situasi penjara juga tenag-tenang saja. Dia berhitung korupsi puluhan milyar dihukum empat tahun misalnya. Ia bisa main dengan menyuap petugas penjara beberapa ratus juta (maksimal 1 Milyar), Ia bisa keluar dari penjara beberapa hari tertentu dalam 1 minggu. Dan kisah seperti itu, banyak ditulis oleh mantan-mantan narapidana kita. Karena melihat situasi penjara seperti tu, maka pencuri kelas kakap terus berani melakukan aksinya di Indonesia.

Hukum Islam Yang Tepat
Dalam Islam, hukuman pencuri adalah potongan tangan. Memotong tangannya tentu dilakukan dengan sebaik-baiknya, tanpa menyakiti pencuri itu. Al-Qur’an menyatakan : Laki-laki yang mencuri dan Perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka
Kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka Barang siapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (QS.al-Maidah:38-39).

Abdullah Ibnu Umar ra berkata :
Bahwa Rasulullah memotong tangan seseorang yang mencuri tameng/perisai,yang nilainya sebesar tiga dirham (Muttafaq’Alaih)
Jadi hukum potong tangan hanya diberlakukan bila mencurinya di atas tiga dirham, atau dalam hadits lain ¼ dinar. Harga dinar saat ini sekitar 1,8 juta,1/4nya berarti sekitar 450 ribu. Jadi minimal 450 ribu (dibulatkan 500 ribu) baru dihukum potong tangan. Dibawah itu, tidak dihukum potong tangan.Apalagi orang yang mencuri karena kelaparan atau mencuri karena untuk pengobatan, tidak dihukum potong tangan. Dalam Islam, Negara wajib menyediakan kebutuhan pokok yang mendasar masyarakatnya: makanan,pakaian,perumahan,pendidikan,dan pengobatan.

Dan untuk hukuman untuk pencuri ini mesti ada saksinya. Ibnu Mundzir berkata,” Para ulama sepakat bahwa hukum potong tangan bagi pencuri dilakukan bila ada dua orang saksi yang adil,beragama Islam dan merdeka.”

Ibnu Qayyim berkata,”Penerapan hukum potong tangan bagi pencuri senilai tiga dirham dan tidak diterapkannya kepada pelaku pencopetan,perampasan,dan pemaksaan merupakan kesempurnaan hikmah syariat.Juga karena seorang pencuri sulit untuk dicegah karena ia masuk ke rumah orang lain secara sembunyi-sembunyi, merusak tempat penyimpanan dan kunci. Dan tidak memungkinkan pemilik barang melakukan penyimpanan lebih dari itu. Kalau seandainya potong tangan tidak disyariatkan, maka akan terjadi saling mencuri antar manusia, kerusakan akan membesar, semakin berbahaya. Berbeda dengan pelaku pencopetan dan perampasan, karena dia mengambil secara terang terang dengan penglihatan manusia, yang memungkinkan mereka mereka dapat mengambilnya kembali dari kedua tangannya dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi atau bersaksi di hadapan hakim.”

Para ulama sepakat bahwa seseorang pencuri pada pencurian yang pertama dipotong tangan sebelah kanannya. Bila ia mencuri kedua kalinya maka dipotong kaki kirinya. Mereka berbeda pendapat bila ia mencuri untuk ketiga kalinya, setelah dipotong tangan kanan dan kaki kirinya. Mayoritas mereka berpendapat dipotong tangan kirinya. Dan bila ia mencuri lagi, maka dipotong kaki kanannya. Kemudian bila ia mencuri lagi maka ia dihukum ta’zir dan dikurung.

Dalam hukum berat,memang ada upaya untuk menghindari hukum berkenan dengan badan manusia. Berat seperti sengaja menghindari hukum yang ada di dalam Al-Qur’an. Barat meski tidak semua Negara barat mencoba menghindari hukuman mati,hukum potong tangan,hukum cambuk,dan lain-lain. Dan para Intelektual barat sengaja membuat buku-buku dan artikel untuk memojokkan hukum Islam,terutama hukum razam bagi pezina. Padahal hukum razam jarang sekali dilakukan dinegeri-negeri Islam. Di zaman Rasulullah Saw saja, hukum razam yang tercatat hanya dua kali dilakukan. Itupun karena pengakuan dari wanita itu sendiri. Hukum rajam dalam Islam sulit dilakukan sebenarnya, karena perlu empat saksi yang adil untuk melihatnya. Beberapa ulama menyatakan bahwa pembuktian dengan kamera atau video tidak cukup (karena bisa dimanipulasi). Di samping tentu saja hukum rajam akan diberlakukan, bila pemerintah telah lebih dulu menghapus pornografi di berbagai bidang.

Kesadaran hukum masyarakat di zaman Rasulullah Saw begitu tingginya, sehingga mereka yang melangggar hukum Islam mengaku dihadapan Rasulullah Saw.Apakah ada di zaman sekarang? Saat ini,karena hukum islam di opinikan hukum sectarian di negeri ini. Maka hukum Islam disingkirkan. Alhamdullilah Aceh telah memulainya.

Walhasil,hukum potong tangan adalah hukum yang ampuh bila diterapkan dengan adil di negeri ini.Insya Allah bila hukum ini diterapkan, akan efektif mencegah pencurian dan korupsi di negeri ini.  Di Negara-negara Arab yang memberlakukan hukum potong tangan, pencuri jarang terjadipara calon koruptor tentu akan takut dipotong tangannya, bila melihat satu koruptor dipotong tangannya.dan sebenarnya hukum ini juga lebih bagus bagi narapidana itu sendiri. Karena narapidana yang dipotong tangannya, meski malu seumur hidup,tapi ia tidak mengalami tekanan jiwa bertahun-tahun di penjara. Karena narapidana yang dipenjara  kebanyakan tersiksa batinnya, karena lingkungan pergaulannya berganti menjadi ‘tidak jelas’. Dan disinilah kemudian berlaku system sogok-menyogok dalam penjara itu.

Kini tugas menyusun rincian hukum potong tangan itu di tangan para ahli hukum Islam dan anggota-anggota DPR yang muslim untuk merumuskannya. Bila mereka serius memperjuangkannya, bukan tidak mungkin hukum potong tangan akan menjadi hukum positif di negeri ini . akankah mereka berani dan serius memperjuangkannya? Kita tunggu dan kita doakan. Wallahu azizun hakim.(Suara Islam-RH)

Bagikan:
KOMENTAR