Masyarakat Kampung Panguripan Tuntut Kembalikan Tanah Rakyat yang Dirampas PTPN III Kebun Rambutan

Kamis, 25 Oktober 2018 | 12.56 WIB

Bagikan:
Suwarno Ketua Masyarakat Saat berargumentasi dengan Kapolsek Tebing Tinggi di Areal Tanah Sengketa

Tebing Tinggi, Setara Post
Puluhan Masyarakat Kampung Panguripan yang di Ketuai oleh Bapak Suwarno menuntut kepada Pemerintah agar lahan seluas 82 Ha milik mereka yang dirampas oleh PTPN III Kebun Rambutan untuk segera dikembalikan kepada rakyat pemiliknya. Hal ini terlihat ketika masyarakat tersebut yang sekaligus sebagai Pemilik tanah melakukan unjuk rasa di pinggir areal Kebun Kelapa Sawit Afd. II Dusun IV Desa Paya Bagas kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai, Rabu 24 / 10 yang dikawal ketat oleh Aparat Kepolisian dari Polsek  Tebing Tinggiserta TNI dari Koramil Tebing Syahbandar.

Unjuk rasa puluhan warga Panguripan tersebut mendapat hadangan dari Ratusan Security dan Hansip yang sengaja dikerahkan oleh Pihak Perkebunan sehingga situasi saat itu terlihat mulai mencekam apalagi para pengunjuk rasa sudah berhadapan langsung dengan para petugas Perkebunan, dengan kesigapan aparat Kepolisian maka situasi mulai redah namun para pengunjuk rasa tidak mau mundur walau setapakpun karena mereka sudah komitmen untuk berjuang demi tanah milik mereka yang sah.

Menurut Suwarno bahwa PTPN III Perkebunan Rambutan sudah merampas dan menggelapkan tanah rakyat sesuai dengan pengakuan yang disampaikan PTPN III Kebun Rambutan bahwa tanah yang dikelolanya adalah 6.837,67 Ha sementara luas tanah yang diluar kelebihan berkisar 5.723,5,55 Ha. Maka menurut Suwarno tanah yang diluar kelebihan AGU seluas 1.114.12 Ha. Oleh sebab itu menurutnya bahwa PTPN III adalah Badan Usaha Milik Negara bukan Badan Usaha Menipu Negara.

Suwarno juga menjelaskan tentang kronologis tanah tersebut bahwa tanah mereka seluas 82 Ha sudah mendapat surat KRPT atau Kartu Registrasi Pendaftaran Tanah sesuai dengan undang-undang Nomor 8 Tahun 1945 dan tanah mereka juga sesuai yang tertera di Peta Arsip adalah sebagai Tanah Kampung. Ironisnya ketika mereka sudah menempati tanah tersebut pada tahun 2011 ratusan rumah masyarakat Rumah Permanen maupun Semi Permanen serta fasilitas Umum dan rumah Ibadah diluluhlantahkan atau dihancurkan oleh Pihak PTPN III Kebun Rambutan dengan memakai alat berat secara biadab yang tidak berprikemanusiaan seluruhnya dilakukan oleh petugas PTPN III Kebun Rambutan. Kejadian ini telah dilaporkan kepada KOMNAS HAM yang secara langsung KOMNAS HAM juga telah menurunkan Timnya ke lokasi sengketa tanah. 

Selain itu Kepala Badan Pertanahan Nasional Pusat juga telah pernah menyurati kepala Kantor BPN Sumatera Utara untuk segera menyelesaikan sengketa tanah tersebut namun hingga kini belum juga terealisasi. Untuk itulah Bapak Suwarno serta puluhan masyarakat lainnya akan terus berjuang untuk mendapatkan keadilan sampai tetes darah penghabisan.


Sementara itu Pihak Perkebunan ketika dihubungi melalui Telepon Seluler mengatakan sibuk sehingga tidak dapat dikonfirmasi seputar kronologis kejadian. (bbs)
Bagikan:
KOMENTAR