Rudy Hermanto Apresiasi Luar Biasa Peserta Lari Kemanusiaan Peduli Palu

Selasa, 30 Oktober 2018 | 23.58 WIB

Bagikan:
Medan, Setara Post
Event Lari untuk Kemanusiaan, Ayo Peduli Palu, dalam rangka Semangat hari Sumpah Pemuda yang digelar di Lapangan Tiara Jalan Cut Meutia Medan berlangsung meriah, Minggu (28/10/2018).

Sebanyak 6.588 Orang dari belasan sekolah dan perguruan tinggi Ikut berpartisipasi dan turut mendonasikan Rp 50.000 untuk korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.
Ketua Panitia Pelaksana Rudy Hermanto usai acara tersebut sangat mengapresiasi penuh kegiatan yang melibatkan para pemuda yang terdiri dari mahasiswa dan para pelajar ini.

"Bahwa pemuda dan mahasiswa bisa melakukan hal positif sambil berolahraga dan menyumbang untuk saudara kita yang mengalami musibah gempa di Palu, ini adalah hal yang patut diberikan apresiasi," ujar Rudy Hermanto.

Calon Anggota DPRD Sumut dari PDI Perjuangan ini lebih lanjut mengatakan, kepedulian dari para pemuda yang tergabung dari mahasiswa dan pelajar se Kota Medan dalam membantu masyarakat di Palu ini adalah hal yang luar biasa dikarenakan selama ini mahasiswa dikenal sering berdemo.

"Saya salut dengan kepedulian mahasiswa dan pelajar yang ikut dalam acara ini, yang mana mereka mau menyisihkan uangnya untuk membantu saudara kita yang tertimpa musibah di Palu Sulawesi Tengah dengan total terkumpul Rp. Rp 329.400.000.," ungkap Rudy Hermanto yang juga Anggota DPRD Padang Sidempuan ini.

Seperti diketahui adapun Sekolah dan perguruan tinggi tersebut diantaranya: YP Wiyata Darma, Mikroskil, AMIK Medicom, STMIK Time, Sekolah Wahidin Sudirohusodo, Kampua Eka Prasetya , Sekolah Sutomo, IT&B, Stok Bina Guna, Wilmar, YP Cinta Budaya, YP Sultan Iskandar Muda, Universitas Prima Indonesia dan Sekolah Bodhicitta.


Acara yang berlangsung sejak pagi tersebut dimulai dengan melepas ribuan orang yang berlari mengelilingi rute sejauh lebih kurang 5 kilometer dari jalan Cut Meutia menuju Jalan Diponegoro, jalan Pengadilan, Jalan Kapten Maulana Lubis, Jalan imam Bonjol hingga kembali lagi ke jalan Cut Meutia yang merupakan garis finish.

Usai pelaksanaan lomba lari tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan acara musik dan hiburan.
Peserta juga dihibur oleh musik yang disediakan dan turut diajak menari Gemufamire dan diajak bergembira bersama. Tak ketinggalan Kepada yang beruntung juga diberikan hadiah menarik dari penarikan lucky draw seperti sepeda, TV, Smartphone, dan hadiah-hadiah lainnya.

Sementara itu, Diwawancarai Dr. Sofyan Tan, Anggota DPR RI Komisi X yang juga memprakarsai acara tersebut mengatakan bahwa tujuan diadakan event tersebut untuk mendorong peran daripada pemuda dalam mengalirkan energi positif. Apalagi tahun ini, sambungnya Indonesia menghadapi beberapa musibah yakni gempa dan tsunami terutama yang sangat dahsyat terjadi di Palu.

"Nah tentu bagaimana kita mengembalikan semangat pemuda itu bukan sekedar demo seperti yang terjadi akhir-akhir ini, tapi semangat yang lari kepada energi yang positif. Energi positif itu adalah melihat penderitaan saudara-saudara kita yang berada di Palu Sulawesi Tengah, yang menghadapi bencana tersebut," ujarnya.

Sofyan juga mengatakan bahwa penderitaan yang saat ini sedang dialami saudara-saudara yang terkena musibah di Palu sudah seharusnya turut kita rasakan. Menurutnya Itulah semangat pemuda yang tidak membeda-bedakan suku, agama dan ras yang juga menjadi semangat di dalam sumpah pemuda 90 tahun lalu.

"90 tahun yang lalu, pemuda kita itu menyatakan sumpah pemuda, tujuannya adalah bersatu untuk mengusir penjajahan dari tanah air kita. Nah tentu semangat itu harus dipelihara. Inilah yang akhirnya mendorong bagaimana sumbangan dari pemuda tersebut untuk bisa disalurkan ke sana dengan acara zero cost. Yang menyumbang ini umumnya dari keluarga anak-anak mahasiswa yang menyisihkan uang jajan dia mungkin," terangnya.


Lebih lanjut, Sofyan juga menambahkan bahwa dari hasil kegiatan yang melibatkan anak-anak siswa maupun mahasiswa tersebut, diperoleh dana donasi yang mencapai angka Rp 329.400.000. Donasi tersebut, sambungnya, akan dikembalikan dalam bentuk pendidikan dan disalurkan kepada korban bencana alam di Palu lewat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. 

Dana tersebut akan digunakan untuk membangun 22 kelas darurat dengan biaya per kelasnya Rp 15 juta, agar anak-anak di sana tetap bisa bersekolah. (Rel)
Bagikan:
KOMENTAR