Tidak Perlu Panik Dengan Kurs, Negara Berupaya Menurunkan

Rabu, 14 November 2018 | 09.00 WIB

Bagikan:
Medan - Setarapost
Kurs (Nilai Tukar),  masyarakat jangan panik. Karena, saat kurs membuat  Negara turun. Maka akan cenderung, membuat pasar panik ( Panik Market. Dengan itu, jika pasar panik. Maka kurs mata uang Negara akan semakin menurun. Biasanya para spekulan, akan diuntungkan dengan kondisi kepanikan Pasar. Karena para spekulan, akan mengambil margin keuntungan,  dari selisih jual beli mata uang tersebut. Kalau untuk, mengetaui hubungan kurs dan kepanikan, tentu tidak sulit.

Staf ahli ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara L.V.Sihombing, SE, MBA dalam pesan Whatsapnya, Selasa (13/11/2018) mengatakan" Dalam teori Kurs mata uang, bahwa harga mata uang antara Negara. Tentu, sudah permintaan dan penawaran. Karena, teori ini tidak berbeda dengan teori harga. Soalnya, kalau dalam teori harga, yang disebutkan  harga. Sudah tentu, permintaan ( Demand) pembeli dan penawaran (Supply) produsen. Seperti contohnya, harga mata uang Rupiah. Sudah ditentukan , oleh permintaan mata uang Rupiah dari Negara lain. Maka dari itu, penawaran mata uang Rupiah oleh Indonesia terhadap mata uang Negara lain" Ujarnya.

L.V.Sihombing menjelaskan.Banyaknya  faktor, yang mempengaruhi Kurs mata uang. Salah satunya ialah, transaksi berjalan antar Negara yang bersumber dari transaksi ekspor impor, investasi, taurism dan lain - lain. Namun, ada faktor dalam tiga Dekade. Terakhir ini, justru lebih domina mempengaruhi kurs mata uang yaitu , kepanikan dengan situasi dimana Pasar galau, Pasar khawatir, Pasar tidak menentu dan Pasar tidak percaya ( Market Untrust). Dalam kurun waktu, tiga Dekade terakhir ini lebih cenderung mengambil core business, pada saat terjadi situasi kepanikan Pasar. Sama halnya, dengan kasus krismon tahun 1997. Para spekulan, justru memanfaatkan situasi kepanikan Pasar. Dengan mengakibatkan, dari ketidakstabilan Politik, keamanan dan lain - lain" Ucapnya.
 
" Kasus anjloknya Kurs Rupiah tahun 1997,  diawali oleh faktor - faktor ekonomi yang Normatif. Akhirnya, dimanfaatkan oleh spekulan dengan menciptakan opini buruk terhadap Rupiah. Maka akhirnya, Pasar galau, Pasar khawatir dan Pasar tidak percaya dengan mata uang Rupiah. Dengan kondisi begini, justru membuat mata uang Rupiah terkapar pada posisi Rp.17.425 per dollar AS. 

Karena, dalama beberapa bulan terakhir ini. Kurs mata uang Rupiah, mulai mengalami gangguan  meski sebenernya, jauh dari tingkat keparahan tahun 1997. Oleh karena itu, dengan situasi ini sebenernya. Tidak akan bisa dimanfaatkan oleh para spekulan, melalui teori kepanikanya ( Panic Theory). Karena,  rakyat masih mempercayai Pemerintah , dan rakyat juga meyakini kebijakan Pemerintah mampu mengatasinya. Ditambah lagi, Pasar tidak galau, Pasar tidak panik dan tidak terkecoh dengan gangguan yang terjadi" Kata L.V.Sihombing.

L.V.Sihombing menyebutkan. Rakyat sudah melihat Pemerintah bekerja, sehingga Pasar juga bekerja.Maka kurs mata uang Rupiah, akan tegar dan kuat, karena rakyat dan Pasar bekerja secara normal.

"Melalui pemberitaan saya ini, saya menghimbau kepada Pasar, agar tetap tenang, tidak galau dan tetapla bekerja dan bekerja. Jangan mendengar isu - isu , yang dihembuskan untuk mengundang kepanikan. Mari kita hadapi dengan tenang, tidak panik dan tetapla bekerja. Ayo kita bekerja dan kerja. Ayo kita tidak panik, karena kepanikan kita akan membuat spekulan tumbuh subur. 

Pemerintah bekerja, rakyat bekerja, dunia usaha bekerja akademisi melaksanakan proses belajar mengajar. Dengan demikian, tidak ada ruang bagi spekulan untuk mengembosi mata uang Rupiah.


Mari kita untuk tidak terpancing, dengan isu - isu yang menakut - nakuti Pasar dan rakyat. Jokowi tetap eksis, dan bekerja untuk rakyat. Mari kita dukung,  program Pemerintah yang sedang berjalan dan yang akan dijalankan.Dan mari kita, teruskan program pembangunan kedepan sebagai pintu masuknya Indonesia menjadi 5 besar, kekuatan Ekonomi Dunia 2045 (100 tahun Indonesia Merdeka, The Big Five Economy Global)" Tegas L.V.Sihombing. (Afd)
Bagikan:
KOMENTAR