Jemaah Tidak Jadi Berangkat Umroh, Pimpinan PT Green Shaavire Holiday Meringkuk Di Jeruji Besi Poldasu

Jumat, 01 Maret 2019 | 01.20 WIB

Bagikan:
Medan - Setarapost. 
Masyarakat Sumatera Utara dan Medan sekitarnya, kalau mau umroh harus memilih travel yang bertanggung jawab. Pasalnya Ditreskrimum Polda Sumut, telah menangkap pimpinan PT Green Shaavife Holiday bernama M.Azmi, karena melakukan penipuan atau penggelapan umrah dengan kerugian sekitar 2,8 miliar. Tersangka M.Azmi juga diduga melakukan tindak pidana pencucian uang, dengan cara menggunakan uang setoran calon jemaah.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Komisaris Besar Polisi  Andi Rian, didampingi Kasubdit 3/Jatanras AKBP Maringan Simanjuntak, dalam keterangan Fres Relesnya dihalaman Ditreskrimum Polda Sumut , Jum'at (28/2/2019) mengatakan “Ada lebih seratus jemaah yang dirugikan. Mereka sudah bayar, tetapi pada hari H keberangkatan pesawat yang dijanjikan tidak ada" Ujarnya.

Andi Rian menerangkan, kasus ini terungkap berkat adanya dua laporan ke polisi. Pelapor pertama yakni Abdullah, Direktur PT Al-falah Tour. Pelapor kedua adalah Idrus Marpaung, Direktur PT Thoriq Haramain. “Pelapor pertama mengalami kerugian sekitar 591 juta rupiah sedangkan pelapor kedua rugi sekitar 343 juta,” terang polisi berpangkat melati tiga itu.

Menurut Andi Rian, calon jemaah meminta pengurusan keberangkatan umroh melalui dua PT yang sekarang menjadi korban. Untuk PT Al-falah Tour, ada 53 calon jemaah tetapi mereka tidak melapor karena kasus ini ditangani langsung perusahaan tersebut. Begitu juga dengan 50 calon jemaah dari PT Thoriq Haramain.

“Sebenarnya masih ada korban lain hanya belum melapor. Tak perlu saya sebutkan nama perusahaannya. Kerugiannya lebih besar yaitu sekitar 1,8 miliar,” timpal Andi Rian.

Modus penipuan ini, sambung Andi Rian, menyediakan perjalanan tiket penerbangan rute Medan-Colombo-Jeddah. PT Green Shaavire Holidays menawarkan jasa perjalanan seperti rute itu melalui perusahaan-perusahaan yang menjadi langganan. Sayangnya, pada saat mau berangkat, rupanya tidak ada pesawatnya. “Sehingga PT yang menjaminkan tadi, mereka sendiri yang mengupayakan untuk mencari penerbangan supaya calon jemaah bisa umroh,” imbuhnya.
Kejadian ini, lanjut Andi Rian, berlangsung di Desember 2018. Sayangnya, tersangka tidak bertanggung jawab atas persialan ini. Ia berdalih perusahaan mengalami kerugian, sehingga gagal memberangkatkan calon jemaah. “Ada kerugian,” bebernya.


Atas perbuatannya, tersangka dikenai tindak pidana penipuan atau penggelapan serta undang-undang pencucian uang. “Ancaman 5 tahun kalau tindak penipuan. Tetapi kalau untuk tindak pidana pencucian uang bisa lebih berat lagi,” pungkas Andi Rian. (Afd) 
Bagikan:
KOMENTAR