Menjemput Asa Di Lahan Kering Bersama Tambang Emas Martabe

Minggu, 15 September 2019 | 17.07 WIB

Bagikan:
Oleh : Saut Togi Ritonga

Batangtoru adalah salah satu Kecamatan dari 14 Kecamatan yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kecamatan Batangtoru terdiri dari 19 Desa dan 4 Kelurahan dengan luas wilayah sebesar 35.149,43 Hektar yang terkenal dengan sumber daya alamnya baik hasil pertanian, perkebunan, pertambangan hingga potensi listrik tenaga air.

Dengan jumlah penduduk mencapai 32.155 jiwa, umumnya bermata pencaharian sebagai petani dengan areal padi sawah seluas 2.040 hektar dan padi ladang seluas 24 hektar dan diantaranya berada di Desa Batu Hula yang termasuk kawasan daerah lingkar tambang emas martabe.

Ketika berkunjung ke Desa Batu Hula Kecamatan Batangtoru, disambut tegur sapa ramah penduduknya, terdengar gemericik air mengiringi langkah dijalan rabat beton menuju areal persawahan warga yang  mulai menghijau dan di kejahuan tampak tangan tangan lincah ibu ibu ditengah sawah menyisihkan rumput pengganggu dari tanaman padi.

Dalam hati berbisik, jalan yang kulalui sudah rabat beton padahal bukan menuju permukiman warga. Pandangan pun tertuju pada sebuah gedung berhalaman lantai semen yang ternyata sebuah penggilingan padi  dengan bangunan gedung seluas 270 m2 dan lantai jemur seluas 750 m2.

Disana lah bertemu Edy Irawan Ketua Koperasi Marsada Jaya Bersama Desa Batu Hula yang merupakan binaan PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe yang berkantor di Aek Pining Kecamatan Batangtoru.

Edy mengisahkan, dulunya areal persawahan Simpang alas Desa Batu Hula dan lapotorop sangat tidak potensial dijadikan lahan padi sawah karena letaknya yang berada lebih tinggi dari permukaan sungai aek garoga maupun sumber mata air lainnya sehingga hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi areal persawahan.

Pola persawahan tadah hujan yang digeluti petani tersebut tentu sangat tidak menguntungkan bagi   petani, karena hanya dapat bercocok tanam padi setahun sekali di musim penghujan.

Sawah tadah hujan umumnya kesuburannya rendah dan sangat rentan terserang hama dan gulma sehingga membutuhkan biaya pemupukan dan perawatan yang lebih tinggi, demikian juga produktivitas berupa hasil panen hanya dalam kisaran 1,5 – 3 ton per hektar.

“ Sering, biaya yang dikeluarkan petani lebih besar ketimbang hasil panen. Alhamdulillah, lahan pertanian warga Batu Hula khususnya anggota Koperasi  Marsada Jaya Bersama menjadi lokasi program optimalisasi kawasan persawahan terpadu dari tambang emas martabe. “ ujarnya sumringah.

Tampak penuh semangat dengan wajah berseri, Edy menuturkan program Tambang Emas Martabe itu memfasilitasi warga dari hulu hingga hilir kebutuhan persawahan petani dari pembibitan, penanaman, pengairan hingga pasca panen yang bertujuan untuk meningkatkan produksi petani simpang alas dan lapotorop dengan luas areal tanam sekitar 60 Hektar.

Tambang Emas Martabe memberikan dukungan dan pembekalan teknologi budidaya pertanian jajar legowo yang mampu meningkatkan produktivitas.

Untuk fasilitas irigasi menggunakan pompa hydram dari sungai aek garoga,Tambang Emas Martabe telah membangun 10 unit pompa mekanis yang mampu mengalirkan air mencapai 50 liter / detik ke persawahan.

Adapun, pompa hydram ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar dan mudah perawatannya. Sistem irigasi ini didukung dengan solar panel 9 kW untuk mengoperasikan pompa submersile yang digunakan untuk mengalirkan kembali air sisa dari pompa hidram dengan volume 13 liter/detik.

Untuk fasilitas penggilingan padi saat ini memiliki kapasitas produksi yang dapat mencapai 5 ton per hari. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan lantai jemur seluas 750 m2 serta bangunan gudang dan kantor seluas 270 m2 dengan kualitas beras yang dihasilkan adalah beras premium. Saat ini penggilingan padi dikelola oleh Koperasi Marsada Jaya Bersama.

Manfaat yang pertama bagi masyarakat khususnya petani sawah yang ada di Desa Batu Hula kini tidak lagi pergi jauh untuk menjemur maupun menggiling gabah padinya seperti yang selama ini harus diangkut keluar desa dan lebih menguntungkan bagi petani yang merupakan anggota koperasi karena akan mendapatkan SHU pada satu tahun buku.
Koperasi Marsada Jaya Bersama menampung hasil panen dari beberapa Poktan yang tergabung di dalamnya dan telah memiliki komitmen untuk memajukan koperasi melalui gilingan padi yang dibangun PT Agincourt Resources, perusahaan tambang emas Martabe sebagai wujud kepeduliannya kepada masyarakat.

Dengan adanya optimalisasi ini, memberikan cahaya terang akan menjemput asa dari lahan yang selama ini kering menjadi persawahan irigasi yang memadai di simpang alas dan lapotorop.
Perluasan areal tanam juga berpotensi berkembang hingga 80 Hektar yang akan   mendorong terjadinya peningkatan volume produksi hasil panen mencapai 30 s/d 50 % yang pada prinsipnya upaya ini diharapkan dapat memberikan peningkatan taraf hidup secara ekonomi bagi sekitar 200-an petani penerima manfaat dan dengan adanya irigasi yang memadai, petani disini akan dapat bercocok tanam padi minimal 2 (dua) kali setahun.

Dukungan program tanggung jawab sosial Tambang Emas Martabe ini dapat memberikan dampak ekonomi yang luas dan jangka panjang kepada masyarakat sehingga peran serta masyarakat khususnya penerima manfaat selalu agar menjaga dan merawat fasilitas optimalisasi kawasan persawahan terpadu tersebut.

Tambang Emas Martabe telah secara aktif mendukung pengembangan masyarakat terutama di sekitar tambang sejak proyek dimulai untuk memastikan masyarakat merasakan manfaat langsung dari kehadiran tambang untuk berbagai program pengembangan masyarakat yang berkelanjutan yang salah satunya adalah sektor pertanian.

Penulis adalah wartawan media online www.setarapost.com
Bagikan:
KOMENTAR